Friday, September 14, 2007

PENYESALAN

Pagiku telah usai
Kini senjaku tiba
Hampir habis batang usiaku

Ketika kumerasa dunia mulai menghimpitku
Dengan dosa - dosa mengejarku
Serta suara caci maki dari batinku sendiri

Dalam resah, dalam gundah
Dalam penyesalan dibelakang
Kubertanya pada diri sendiri

Mengapa ku selalu jauh darimu, Tuhan?
Mengapa ku selalu melanggarmu, Tuhan?
Mengapa menyesal selalu dibelakang?

Sekarang, hampir tiba waktuku menghadapmu
Hampir saatnya kau pertanyakan aku
Lalu, apa yang akan kukatakan padamu, Tuhan?
Apa yang dapat ku pertanggungjawabkan kepadamu, Tuhan?
Hanya sesal yang ada, sia - siakan hidupku

Pratiwi Kuslita 2000

Butakah Bunda?

Gelap...... tiada sinar
Gulita, pekat, kelam semua
Semuanya......... di depanmu, Bunda
Gelap pandangan mu, Bunda?

Tak adakah secercah cahaya di bola matamu?
Atau hilangkah cercah itu di hatimu?
Aku hanya, hanya butuh secercah saja, Bunda
Untuk kau lihat aku disini

Ya! Aku disini Bunda
Disini aku ada
Disini aku hadir, dan........
Disini aku menangis Bunda

Ini, aku Bunda, hadir di dunia
Ini aku Bunda, hadir karnamu
Ini aku... Bunda..............!

Tapi kenapa Bunda, kenapa?
Kenapa kau sesali hadirku?
Kenapa kau buat putusan untukku?
Dan, kenapa kau harus kembalikan aku pada-Nya?
Secepat itu Bunda?!
Walau kau tau, aku baru saja datang

Tunggu!! Tunggu Bunda..............
Tak bisakah kau menunggu, Bunda?
Kumohon....tunggu aku! Biarkan aku..........
Biarkan aku cukup dewasa
Cukup dewasa tuk menggapai tanganmu
Dan ucapkan isi hatiku
"AKU SAYANG PADAMU BUNDA"

Pratiwi Kuslita 2002

Ku Inginkan Badut Itu

Aku terdiam malu
Saat ku sadar hadirnya
Tamu yang tak terduga,
Diambang pintu hatiku

Sungguh! Ketukkan pintu itu.........
Ingin ku bukakan untuk mu.
Tapi, langkahku pun kembali diam.
Saat ku tahu ia,
Ia disana, berdiri disampingmu.

Kenapa?! Kenapa berani kau ketuk??
Dan jika....kubuka pintu itu.....
Apa kau akan bermain sirkus??
Enyahlah kau!!! Aku tak butuh badut!!!

Kini aku dibalik pintu.
Coba sembunyi dari ketukkan.
Tapi....sungguh aku tak bisa sembunyi,
Dari suara yang paling dalam,
"Kuinginkan badut itu"

Pratiwi Kuslita 2003


Kisah Sebuah Rusuk

Saat rusuk harus terpisah
Berada jauh dari tubuhnya
Apakah tubuh itu akan terluka?
Dan rindukan rusuknya?

Tapi tahu kah kau Cinta?
Saat kau pergi tinggalkan dia
Rusuk itu hampir binasa

Ia remuk jadi puing
Ia redup tak berpijar
Ia layu dan mengering

Tapi tubuh, usahlah bertanya
Pada rusuk yang merana
Adakah ia masih mencinta?

Karna.............

Saat itu terpahat janji
Hatinya kan beku
Jiwanya kan tandus
Hingga satu saat nanti
Kau minta ia kembali
Tuk bersatu dengan tubuhnya
Seperti ditulis suratan takdir

Pratiwi Kuslita 2003

Api Abadi

Terkubur aku sendiri
Sekap semua disini
Berharap ini kan mati
Hingga kapan nanti

Cinta ini bagaikan api
Api ini membakar hati
Dan api ini terlalu tinggi

Andai kau tak punya setetes minyak pun untuk apiku
Dan tak ingin berikan sebongkah kayu pun untuk terbakar

Mohon, jangan pernah kau sulut lagi
Yang kau sulut api abadi !!
Usah kau tanya kapan terhenti
Terlalu takut aku menyadari
Karna, Cinta ini tak bisa mati

Pratiwi Kuslita 2003

Disini, di Sebuah Ruang di Hatiku

Mentari t'lah pergi, hilang, lenyap......
Dan kini t'lah berganti rembulan
Tapi tidak, itu tidak, tidak dengan mentariku

Masa ini, waktu ini, detik ini,
Ini bukan, bukan yang itu
Tapi sayang.... sungguh sayang! Itu tidak terjadi disini
Disini disebuah ruang di hatiku

Saat wajah - wajah silih berganti
Coba lenyapkan bunga yang t'lah mati
Dan aku pun mulai mencoba lagi, lagi, dan lagi
Tapi sayang, itu tidak, tidak terjadi untukmu
Disini, disebuah ruang dihatiku

Bisa saja mentariku tak dapat berganti
Boleh jadi asa ku terhenti disini
Tapi ingat, itu tidak, tidak dengan MASA!

Masa t'lah bawa mentarimu pergi
Masa t'lah suburkan bunga dihatimu
Dan aku.. tak dapat putar rembulanmu jadi mentari

Aku disini, masih disini, menatap mentariku
Dengan sesal, coba kepakkan sayap lemahku
Terbang jauh..............., tinggi...................
Dengan harap ku temukan ia
Cercah sinar rembulan
Tuk balut luka disini
Disini, disebuah ruang di hatiku

Pratiwi Kuslita 2002

Bulir - Bulir Asa

Gelas yang ku pecahkan kemarin
Kurekatkan kembali dengan puisi
Siapa tahu, nanti...
Kita bisa minum bersama.

Benda itu kutinggal disana
Saat kau datang mencari, aku seolah lupa
Tapi.. mengapa ku cari kembali?
Saat kau kini t'lah benar - benar lupa.

Cermin didepannya kubilang itu kamu
Dia yang kulihat, kamu yang kuingat
Saat kupanggil dia, mengapa kamu yang kusebut?
Tidak! Dia tak bisa gantikan kamu.

Kukirim merpati padamu
Kutunggu ia, lama......sekali!
Tersentak lamunku oleh kilat itu
Kini ku tahu, merpatiku telah mati.

Pratiwi Kuslita 2003